Sandiwaranya.

Aku melihat gadis itu.
Dia hanya diam.
Berusaha tak menggubris keadaan yang membuatnya kesulitan bernafas.
Keadaan yang sejak tadi membuat dadanya sesak.

Aku terus memperhatikannya.
Ia terus berbicara.
Kulirik ke arah sumber permasalahannya.
Mereka masih bersama.

Gadis itu tetap terlihat tak peduli.
Sempat aku mengajaknya bicara.
Ia bahkan sempat tertawa.
Aku kagum.
Ia begitu lihai menutupi rasa.
Ia sangat pandai bersandiwara.

Tertawa di atas kepedihan dirinya sendiri.
Tapi, bagaimana?
Jika keadaan memaksanya untuk menyembunyikan.
Jika rasa itu terkesan salah.

Memang tak ada yang perlu tahu.
Bahkan pria yang sejak tadi menyita perhatiannya itu.
Bukan, bukan sejak tadi.
Lebih tepatnya sejak ia mulai menaruh hati.

Tapi, ia hanya bisa bungkam.
Ia terus memainkan perannya.
Ia terus bersembunyi.
Setidaknya, hanya itu yang ia rasa benar.

Lagipula cinta tak harus bersama.
Bagi gadis itu, dekat dengannya saja, sudah terasa cukup.
Sudah itu saja.
Bahagia nya sesederhana itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Brother

Dingin dan terjaga.

Grows Up?