Dingin dan terjaga.
Kembali lagi.
Menatap langit kamar yang masih putih.
Masih kosong.
Masih hampa.
Dingin.
Sial. Apa yang menarik dari langit kamar ini? Tiap kali aku menatap, mataku menetap. Hanya terbuka, tak mau menutup.
Mengherankan. Padahal sudah lelah. Berat dan sayu. Kantukpun sudah datang. Tapi, sulit sekali untuk terpejam.
Aneh. Mengapa terlelap lebih sulit dari meratap. Padahal tak perlu bermimpi dan gelap menyenangkan.
Begitu juga dengan dingin. Menyejukkan. Tapi, sepertinya tidak di malam selarut ini. Salah, lebih tepatnya sudah pagi.
Diam, hening, sepi dan sunyi. Namun, tidak dalam kepala. Sejuta pikiran datang bersama.
Ah. Tidak, tidak. Terlalu berlebihan. Mana mungkin sejuta, jika satu saja, sudah bisa membuatku terjaga.
Menatap langit kamar yang masih putih.
Masih kosong.
Masih hampa.
Dingin.
Sial. Apa yang menarik dari langit kamar ini? Tiap kali aku menatap, mataku menetap. Hanya terbuka, tak mau menutup.
Mengherankan. Padahal sudah lelah. Berat dan sayu. Kantukpun sudah datang. Tapi, sulit sekali untuk terpejam.
Aneh. Mengapa terlelap lebih sulit dari meratap. Padahal tak perlu bermimpi dan gelap menyenangkan.
Begitu juga dengan dingin. Menyejukkan. Tapi, sepertinya tidak di malam selarut ini. Salah, lebih tepatnya sudah pagi.
Diam, hening, sepi dan sunyi. Namun, tidak dalam kepala. Sejuta pikiran datang bersama.
Ah. Tidak, tidak. Terlalu berlebihan. Mana mungkin sejuta, jika satu saja, sudah bisa membuatku terjaga.
Komentar
Posting Komentar