Bangku tua sederhana
Aku membuka pintu itu dengan ragu. Aku mungkin sudah memasuki ruangan itu berkali-kali. Tapi kali ini aku datang dengan alasan berbeda. Tidak bisa aku pungkiri, aku merindukan ruang tua itu. Aku melangkahkan kaki secara perlahan. Bisa ku dengar suara gesekan antara sepatu ku dengan lantai kayu di ruangan itu. Ya, ruangan ini hanya ruang sederhana, dimana didalamnya terdapat benda-benda yang merekam setiap kenangan. Aku menatap tiga buah kursi tua diujung ruangan itu. Seketika ku lihat bayangan gadis munyil sedang duduk di salah satu kursi kayu sederhana itu. Rambutnya tergerai lemas, mata bulat dan pipinya yang sedikit memerah membuat gadis itu terlihat sangat menggemaskan. Ia sedang tertawa bersama dua orang lelaki yang duduk di sampingnya. Di dua kursi lainnya. Dari raut wajahnya semua orang juga tahu ia sangat menikmati hidupnya. Ia hanya gadis kecil yang tak tahu betapa kerasnya dunia yang sedang dia hadapi. Bisa ku lihat sekarang ia menoleh kearahku, ia tersenyum manis. Tanpa kusadari perlahan bayangan itu menghilang, kini hanya tiga bangku tua sederhana itu yang ada di pandanganku. Seketika aku tertegun. Bisa ku rasakan seluruh saraf ku menegang. Aku menghembuskan nafas dengan perlahan. Bersamaan dengan mengalirnya setetes air bening dari mata bulatku , Senyum manis terukir di bibir tipisku. Ya, semua itu hanya kenangan. Kenangan manis yang akan selalu kuingat. Ya, rupanya gadis munyil itu telah bertumbuh dewasa. Wajah polosnya kini berganti dengan wajah dingin yang memancarkan kepahitan. Dan disinilah gadis itu berdiri menatap semua bangku tua sederhana diruangan itu. Menyadari bahwa kehidupan ini begitu kejam. Dan menyadari bahwa gadis kecil lemah dan ketiha bangku tua sederhana itu hanyalah sebuah masa lalu.

Komentar
Posting Komentar