Persimpangan.
Suara detik jam terdengar mengisi keheningan.
Entah sudah berapa lama ia berlari.
Tak kenal lelah, tak tentu arah, yang jelas makin menciptakan ruang diantara kau dan aku.
Empat bulan sudah kita berjarak.
Rasanya, ditengah malam begini, aku baru teringat hal-hal tentangmu.
Memutar kembali kenangan lalu.
Tawamu, canda kita
Pembicaraan dan obrolan yang tak ada habisnya
Cerita tentang aku, kau dan dia.
Semua yang kita lakukan bersama.
Cahaya akan lebih berharga ketika kau berjumpa dengan gelap.
Begitu juga dengan hangat yang lebih dibutuhkan ketika kau di sapa dingin.
Sama seperti kamu yang baru kurindukan ketika aku sudah kehilangan.
Kehilangan waktu untuk terus bisa bersamamu.
Kehilangan kita demi cita-cita.
Dulu, dimana ada kamu, disitu ada aku.
Dulu, dimana ada kita, disana pasti ada tawa.
Tapi kita termakan waktu.
Dan ditelan habis-habisan oleh keadaan.
Hingga kita tak berdaya dan hanya bisa berandai.
Tapi aku tak lagi peduli.
Rasanya terlalu muluk jika ingin memberhentikan waktu.
Jadi bagian dari ceritamu saja, aku sudah bahagia.
Asalkan kau tak lupakan aku, aku akan selalu jadi bahumu.
Aku akan selalu jadi telingamu.
Aku akan jadi tempat keluh kesahmu.
Biarpun jarak dan waktu tak lagi berpihak pada kita.
Putih abu-abu.
Kau dan aku tak lagi satu.
Kita akan menciptakan dunia baru.
Kaki kita terus melangkah.
Jalan kita tak lagi searah.
Tapi bukan berarti kita harus berpisah.
Persimpangan ini bukan akhir dari kau dan aku.
Melainkan awal kisah perjalanan yang baru.
Persimpangan ini bukan akhir cerita kita.
Melainkan langkah menuju pada cita.
Tuhan memberkatimu,
sahabat-sahabat terbaikku.
Entah sudah berapa lama ia berlari.
Tak kenal lelah, tak tentu arah, yang jelas makin menciptakan ruang diantara kau dan aku.
Empat bulan sudah kita berjarak.
Rasanya, ditengah malam begini, aku baru teringat hal-hal tentangmu.
Memutar kembali kenangan lalu.
Tawamu, canda kita
Pembicaraan dan obrolan yang tak ada habisnya
Cerita tentang aku, kau dan dia.
Semua yang kita lakukan bersama.
Cahaya akan lebih berharga ketika kau berjumpa dengan gelap.
Begitu juga dengan hangat yang lebih dibutuhkan ketika kau di sapa dingin.
Sama seperti kamu yang baru kurindukan ketika aku sudah kehilangan.
Kehilangan waktu untuk terus bisa bersamamu.
Kehilangan kita demi cita-cita.
Dulu, dimana ada kamu, disitu ada aku.
Dulu, dimana ada kita, disana pasti ada tawa.
Tapi kita termakan waktu.
Dan ditelan habis-habisan oleh keadaan.
Hingga kita tak berdaya dan hanya bisa berandai.
Tapi aku tak lagi peduli.
Rasanya terlalu muluk jika ingin memberhentikan waktu.
Jadi bagian dari ceritamu saja, aku sudah bahagia.
Asalkan kau tak lupakan aku, aku akan selalu jadi bahumu.
Aku akan selalu jadi telingamu.
Aku akan jadi tempat keluh kesahmu.
Biarpun jarak dan waktu tak lagi berpihak pada kita.
Putih abu-abu.
Kau dan aku tak lagi satu.
Kita akan menciptakan dunia baru.
Kaki kita terus melangkah.
Jalan kita tak lagi searah.
Tapi bukan berarti kita harus berpisah.
Persimpangan ini bukan akhir dari kau dan aku.
Melainkan awal kisah perjalanan yang baru.
Persimpangan ini bukan akhir cerita kita.
Melainkan langkah menuju pada cita.
Tuhan memberkatimu,
sahabat-sahabat terbaikku.
Komentar
Posting Komentar