Abu-abu.
Hampir tengah malam dan jariku tak mau diam. Dengan mata setengah
suntuk, layar laptop ini rasanya lebih terang. Mungkin, bukan waktu yang tepat
untuk menulis. Maklum saja, belum lama aku sempat pulas. Tapi, apa daya ketika
hati dan otak ingin berbicara, memangnya apa lagi jalan tengahnya? Kuturuti
keinginan hati yang ingin menumpahkan kata dalam bentuk prosa.
Banyak kekhawatiran. Bukan, bukan tak percaya diri. Hanya
saja karena banyak kejadian tak terduga, aku jadi tak lagi punya keberanian
untuk berharap. Aku lebih sibuk mempersiapkan diri untuk kemungkinan buruk yang
belum tentu terjadi, tapi tetap, bisa saja.
Aku ini bicara apa? Sepertinya aku mabuk. Atau ini efek mata
yang sebenarnya sudah lelah sama seperti otak yang terus kupecut untuk
berpikir. Tapi, aku masih takut. Bukan. Aku bukan takut pada ketinggian, melainkan aku takut pada perasaaan ketika dijatuhkan. Mungkin, ini salah satu
kelemahan yang membuatku tak pernah suka menatap lurus.
Aku sibuk memperhatikan jalan sampai lupa melihat apa yang
ada didepanku. Aku sibuk melangkah tanpa siap untuk menyaksikan apa yang telah
kucapai. Aku tak lagi berani berkhayal. Tak lagi mampu untuk bermimpi. Aku sudah
cukup dewasa untuk tahu bahwa dunia tak seelok senyum manisnya. Aku sudah
terlalu banyak menyaksikan kepalsuan sampai aku rasanya sulit membedakan mana
maya dan nyata.
Aku tahu, aku diberi banyak keajaiban oleh Tuhan. Aku
diberikan begitu banyak kebahagiaan dari apa yang kuperoleh dan dari
orang-orang yang ia kirimkan untuk menjadi malaikatku selama aku di dunia. Hidupku
memang tidak sempurna. Tapi hidupku masih banyak kelebihannya. Untuk itu, aku
tak mau duduk manis menyaksikan kekhawatiran menertawakanku. Aku tak bisa diam
saja ketika ketakutan mulai bersahabat denganku. Perlahan, aku berdiri dan
belajar melangkah lagi.
Dan ditengah kebutaanku yang tak tahu arah, aku tetap yakin.
Dunia ini punya banyak warna. Hanya saja, semuanya belum berhasil kutemukan. Aku
yakin masih ada putih ditengah hitam. Masih ada cahaya ditengah kegelapan.
Masih ada hangat ditengah dinginnya yang kadang terasa menyakitkan. Aku yakin
dunia ini tak ditakdirkan jadi abu-abu. Begitu juga dengan hidupku.
Komentar
Posting Komentar