Lima.

Aku mengetik ini atas permintaan salah satu temanku. Ia baru saja membaca ratusan kata pada halaman ini, dan entah kenapa tiba-tiba minta dibuatkan sebuah tulisan. Saat pertama kali mendengar perkataannya, aku sedikit bingung; tidak tahu harus menggambarkan persahabatan kami seperti apa selain lewat tawa. Tapi, kurasa tak ada salahnya mencoba mengabadikan persahabatan kami tak hanya dalam bentuk gambar, tetapi juga dalam bentuk tulisan.

Dalam persahabatan kami, tak banyak yang istimewa. Namun, disana terkandung banyak cerita dan diselingi begitu banyak tawa. Tawa yang sejujurnya kadang kami sendiri tak mengerti, cerita yang kadang juga sulit kami pahami. 

Mereka merupakan empat orang pria yang sebenarnya belum dewasa. Empat pria yang akhirnya membuat mimpiku untuk bersahabat dengan pria menjadi nyata. 

Pria pertama, bernama Yohanes Evan atau lebih dikenal dengan sebutan Evan. Ia berbadan besar, dan tinggi. Ia seorang pemusik atau lebih tepatnya seorang gitaris; setidaknya ia sangat pandai dan suka bermain gitar untuk mengisi acara disekolah kami. Ia anak tunggal dan itu sebabnya ia begitu dimanjakan. Segala yang ia inginkan tertata rapi dikamarnya; termasuk gitar-gitar kesayangannya. Rumahnya selalu kami jadikan tempat untuk bertukar tawa saat tak tahu harus pergi kemana hanya untuk sekedar menghabiskan waktu bersama. Ia merupakan pria yang cuek tetapi tak pernah pelit kepada sahabatnya. 

Pria yang kedua ialah Jordan Anugrah Pratama. Pria yang lebih sering kami panggil dengan sebutan Jordan atau Odan. Ia kurus, tinggi. Salah satu dari kami yang mungkin paling populer dikalangan sekolah kami. Ia pria yang ramah, namun kadang keramahannya justru membuat para wanita salah paham padanya. Motornya berwarna hitam dan dipenuhi aksesoris touring, yang kadang ia pasang bersama ayahnya. Ia pria yang pandai dan cukup aktif disekolah. Hanya saja mungkin baginya, waktu seperti tak ada harganya. Mungkin itulah sebabnya ia tak pernah datang tepat waktu ketika kami berjanji untuk berkumpul dan bertemu. 

Ketiga, bernama Patrick Hugo Ary Ginting. Pria yang kami sebut dengan panggilan Patrick inilah yang sesungguhnya memintaku membuat tulisan tentang kami berlima. Ia pria paling gila yang pernah kukenal; setidaknya sejauh ini begitu. Ia sangat percaya diri dan menguasai segala macam berita terbaru; mulai dari film-musik hingga gosip. Diantara kami, sebenarnya ialah yang memiliki selera humor yang paling baik. Hanya saja entah mengapa, belakangan ini selera humornya tak pernah lagi menghiasi percakapan kami. Ia hanya muncul sepatah atau dua kata; lalu menghilang. Kadang datang hanya untuk sekedar berbasa basi. Ia datang dan pergi sesuka hatinya. Tetapi ia tetap selalu berusaha menyediakan waktu untuk berkumpul bersama.

Terakhir, pria bernama Nathanael Rezaputra Winata. Namanya lebih akrab kami panggil Nathan. Kini, ialah yang paling peduli dengan persahabatan kami semua. Ia sosok pria dengan cara pandang dan sikap yang biasa saja. Diantara kami, ialah yang memiliki pikiran paling jernih dan dewasa. Ia selalu menjadi jembatan, dan perantara agar masalah dalam persahabatan kami bisa secepatnya terselesaikan. Ia sangat aktif dalam pelayan gerejanya. Walaupun, ia pria yang cukup pendiam, dan sulit bergaul. Namun, ketika kaumengenalnya lebih dekat seolah-olah bahkan ia tak tahu malu. Ia menjadi pria gila yang seolah-olah begitu mudah tertawa.

Semuanya berawal begitu sederhana. Dimulai dari salah satu aplikasi social chatting yang saat itu baru saja keluar; wechat, kami saling bertukar tawa lewat vitur voice note yang saat itu sedang tenar-tenarnya. Kita berbicara hingga larut. Tak ada letihnya, tak peduli pada orang-orang yang mendengarkan pembicaraan kami. Dan entah siapa yang memulai, percakapan kecil itu justru terbawa hingga ke dunia nyata dan membuatku justru semakin mengenal kepribadian mereka satu persatu; terjalin persahabatan diantara kami berlima. 

Segalanya mengalir begitu saja, bermula dari hal yang sangat sederhana hingga kini justru menjadi sumber bahagia. Tempat bertukar cerita dan juga melempar canda tawa. Kami berlima hanya lah remaja yang kini duduk di bangku 2 SMA. Dan kami bukan orang-orang yang sempurna. Tetapi kami tahu, kami adalah lima remaja yang hanya ingin menjadi diri sendiri, dan berusaha menghibur diri dalam persahabatan yang sejati. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Brother

Dingin dan terjaga.

Grows Up?