Mudah mencintaimu, sulit melupakanmu

Ketika cinta datang terlambat.....

" Dapet salam. " ucap salah satu temanku

" Dari siapa? "

" Dari tius. " 

Begitulah semuanya dimulai. Namaku Lia. Aku duduk di bangku kelas 6SDK di Jakarta. Aku gadis kecil sederhana yang murah senyum, galak, dan cukup manja. Hari-hariku selalu ku isi bersama ke-4 sahabatku dengan penuh tawa hingga kabar itu mulai menghantui telingaku. Ya, kabar yang mengatakan bahwa Tius -anak kelas 2 SMP di sekolah yang sama denganku itu menyukaiku. Aku mulai tidak tenang menjalani hari, karena aku mulai risih saat semua teman-temanku menyebutkan nama itu setiap kali aku lewat. Tius memang tidak jelek, bisa dibilang lumayan. Badannya tidak terlalu tinggi dan gayanya tidak terlalu buruk. Tapi tetap saja. Aku kan masih kelas 6 SD, yang benar saja?

Hari-hari kujalani dengan penuh kesal dan tatapan sengit kepada orang-orang yang selalu memanggilku dengan nama Tius. Hingga lama-lama aku bosan dan mulai letih menghadapi sikap orang-orang menjengkelkan itu. Akhirnya aku terbiasa dan bersikap acuh tak acuh pada apa yang dikatakan mereka. Paling-paling mereka akan bosan sendiri, pikirku. 

Tepat seperti dugaanku. Lama kelamaan semakin sedikit orang yang meledekku Tius. Dan semakin lama, tak pernah ada lagi kata 'Tius' yang ku dengar setiap kali aku lewat. Aku tahu seharusnya aku senang. Tapi mengapa justru rasanya ada yang aneh.... Bukannya senang, aku malah merasa kehilangan sesuatu. Apa-apaan? Ku halaukan semua perasaan yang menjengkelkan itu. Lupakan saja, karena aku tidak mungkin menyukainya. tidak akan. 

Beberapa hari kemudian. Aku mendengar kabar angin di sekolah yang mengatakan bahwa Dewi menyukai Tius. Dewi adalah teman sekelasku. Kami tidak terlalu dekat. Dan entah mengapa ketika mendengar berita itu, aku hanya bisa membeku dan tersenyum pahit. Suasana hatiku berubah drastis. Kacau dan tak karuan. Dan sialnya aku harus menghadapi suasana hati itu setiap hari. Setiap kali aku mendengar Dewi membicarakan Tius, setiap kali aku melihat Dewi menulis nama Tius dibuku tulisnya. Arghhh! Perasaan apa ini? Mengapa aku selalu kesal setiap mengingat nama 'Dewi dan Tius'. Apa ini kah yang dinamakan perasaan cemburu? Seperti perasaan yang sering dialami tokoh-tokoh FTV kesayanganku.

Lambat laun, aku semakin jelas mengerti perasaan ini. Aku menyukai Tius. Dan disaat Tius sedang dekat dengan Dewi, aku baru menyadarinya. HEBAT! Lalu apa yang bisa kuperbuat sekarang? Ya hanya bercerita sambil berkomat-kamit kepada sahabat-sahabatku hingga akhirnya kesal sendiri. Hah... Mengapa perasaan ini datang sangat terlambat? Seandainya aku menyadari perasaan ini sejak waktu itu. Mungkin saat ini statusku di facebook tidak lagi 'single'. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Bagaimana pun juga aku tidak akan pernah bisa bersama Tius. Lagipula tinggal dua bulan lagi aku akan lulus dan melanjutkan pendidikan ku ke SMP Negri ternama di Jakarta. Pasti akan lebih mudah bagiku untuk melupakan Tius. 

Dua bulan aku jalani dengan penuh kebimbangan dan kegalauan. Bukan hanya masalah Dewi, tapi juga karena sebentar lagi aku tidak akan bisa menatap Tius walaupun selama ini hanya kulakukan dari kejauhan. Aku pun semakin bingung karena terlalu sakit memendam perasaan ini lebih lama. Rasanya aku ingin berteriak dihadapannya bahwa aku menyukainya atau lebih tepatnya sekarang aku menyayanginya. Tapi aku terlalu pengecut untuk mengatakan semuanya. Aku tidak pernah berani bahkan hanya untuk menemuinya dan berkata 'hai'. 

Semua hanya terkunci rapat dimulutku dan di otak teman-temanku. Hingga waktuku habis. Dua bulan itu telah berlalu. Berat rasanya. Ini semua berakhir. Seperti ada yang mengganjal di hati untuk meninggalkan sekolah penuh kenangan itu. Apalagi diam-diam ada cinta yang belum sempat terucap. Belum ada ending bahagia seperti di FTV. Atau mungkin ini bukan akhirnya? Tidak tahu... yang jelas mungkin setelah ini aku tidak akan pernah bertemu Tius lagi... 

Beberapa bulan setelah aku memasuki sekolah ku yang baru dan tentunya bukan lagi dengan predikat 'anak SD' . Aku mulai menerima kenyataan bahwa rupanya dugaan ku tidak tepat alias sangat meleset.. Bukannya lebih mudah melupakan Tius, ini justru membuatku semakin gila. Bayangkan, tak ada hari yang kulalui tanpa memikirkan dan merindukannya. Tius, tius dan tius... Perasaan ini masih sama... belum berubah dan justru semakin menyiksa. Aku memang menyukai pria lain disini, tapi perasaan ku untuknya belum bisa ku hapus. Dan tidak bisa aku pungkiri dia amasih orang pertama yang aku pikirkan ketika aku mulai bosan mendengar guru yang berceloteh didepan kelas. Dia adalah orang yang selalu kurindukan dari bangun tidurku hingga aku terlelap-bangun lagi-terlelap lagi.

Setahun berlalu... Hingga suatu siang, aku sedang duduk di taman dekat sekolahku. tentu saja sambil melamun memikirkan Tius. Pria yang sama dan masih sama. Aku sangat terkejut ketika mendapati sosok yang baru saja lewat dihadapanku dengan sepeda motornya. Wajah yang sangat tak asing. Sosok yang selalu kurindukan selama setahun ini. TIUS!!! Aku sangat tidak menyangka dan sangat senang bisa melihat sosok itu walaupun hanya dalam beberapa detik. 

Setelah hari itu, aku mencari tahu bagaimana bisa waktu itu ia melintas di jalan dekat sekolah ku. Hingga akhirnya usahaku tidak sia-sia. Aku mendapat informasi bahwa ternyata rumah Tius berada tidak jauh dari sekolahku ini. Memang jodoh, batinku. Sekarang aku menjadi lebih semangat berangkat sekolah sekaligus patah semangat tiap pulang sekolah. karena setelah hari itu, aku selalu berharap ia lewat didepanku lagi, begitu pula keesokan harinya dan keesokan harinya lagi. namun jarang sekali aku punya kesempatan untuk melihatnya lagi. Menyedihkan.

Tidak terasa sudah hampir tiga tahun aku merindukan sosok itu... Ya, saat ini aku sudah menginjakan kaki di kelas tiga SMP. Dan itu tandanya sudah tiga tahun lamanya aku menyayanginya secara diam-diam. Tanpa pernah ada kata 'sayang' atau bahkan 'suka' yang terucap. Hingga saat ini sosok itu masih saja menjadi alasan aku bimbang kala mendengar melodi lagu sendu. Aku dengan mudah menrindunya tanpa pernah bisa dengan mudah mengatakannya. Dia mengajariku dengan mudah mencintainya, namun aku rasa dia lupa mengajariku sesuatu... Dia lupa mengajariku bagaimana dengan mudah cara melupakannya..... Mengapa cinta harus datang terlambat? 

Kisah nyata yang pernah dialami seorang gadis bernama Natha. 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Brother

Dingin dan terjaga.

Grows Up?